Puisi 3

Acep Zamzam Noor

SEPANJANG BRAGA


1

Lalat-lalat masih berterbangan
Mengitari restoran dan onggokan sampah
Tulisan-tulisan di dinding, papan-papan iklan
Derum kendaraan dan keloneng becak yang lewat
Menggulirkan waktu. Siapakah yang mabuk dan tersedu
Di ujung lagu? Tiang-tiang listrik
Kebisuan yang risik. Dipukul detik demi detik

2

“Selamat tinggal,” seorang lelaki berkacamata hitam
Mengumpat pada malam. Dari jemarinya yang kasar
Terdengar denting gitar, sedang dari mulutnya yang bau
Meluncur berbagai pesan perdamaian bagi dunia
Kisah menjadi lengkap, cuaca matang dan sunyi dewasa
“Sampai bertemu di lain kesempatan,” lelaki itu mengerang
Mungkin pada perempuan yang terbunuh tadi siang

3

Perhatikan lampu neon yang redup itu
Ia mengundang nyamuk dari berbagai warna kulit
Untuk kebersamaan. Ia semacam bendera, semacam tanda
Yang disetujui bersama. Semacam monumen bagi cinta
Tapi adakah makna di balik lambaian? Seorang pelacur tua
Seperti lampu neon yang redup itu, diam-diam memanggil kita
Juga untuk kebersamaan. Sekarang berapa harga karcis
Bandung-Jakarta?

***
Prev Next Next