Puisi 6

Acep Zamzam Noor

BAU TANAH SEHABIS HUJAN


Di kerumunan pulau yang jauh di sana
Masih tersimpan puisi-puisiku. Pohon-pohon bambu
Rumpun-rumpun perdu serta hamparan sawah
Yang menguning. Arus sungai bergolak dalam dadaku
Memompa urat darah, memacu degup jantung

“Aku segera ke sana,” bisikku pada garu dan luku
Pada kerbau yang menunggu. Kuhirup bau tanah sehabis hujan
Kujejaki pematang dengan ingatan, lantas termangu:
Di manakah aku? Kulihat langit masa lalu
Langit lengkung biru

Di bawah matahari yang membakar
Terkubur tanah airku. Pecahan batu, lelehan aspal panas
Genangan semen menghapus semua jejak waktu:
Di manakah aku? Hanya julangan rangka-rangka besi
Bentangan kawat-kawat listrik dan gemuruh pabrik
Hanya awan hitam, kepulan asap dari cerobong zaman
Membumbung seperti lengking azan

Udara buruk menyesaki dadaku, angin jahat merabuki napasku
Kemarau menjadi api, hujan menjadi ancaman dan petir berkilatan
Seperti pedang. “Aku segera ke sana,” bisikku pada penjaga parkir itu
Pada birokrasi. Tersenyum, mengangguk, lalu masuk:
Telah kusatroni salon dan butik, kusambangi restoran dan apotik
Kurampok panti pijat dan rumah sakit. Tapi di manakah aku?

***
Prev Next Next