Puisi 95

Acep Zamzam Noor

DESEMBER


Pada suatu sore bulan Desember
Aku berdiri di tangga gereja
Ketika lonceng mengumandangkan sunyi
Dan serombongan burung dara
Menjengkal setiap ruang yang tersisa
Di antara patung-patung dan reruntuhan
Lalu semuanya kupahami sebagai perlambang agung
Seperti Isa dengan luka-lukanya yang kekal
Kubalut luka-luka dan kesepianku
Dengan baris-baris sajak

Dulu aku pernah sangat berdosa
Memetik buah kehidupan dari pohonnya di sorga
Tapi itulah dunia yang kemudian tersaji buatku
Aku mabuk dan menggedor-gedor ruang hampa
Sebagai pengembara yang terusir dan kehilangan
Tanah air. Ketika bulan Desember kembali menjumpaiku
Dengan kabut dan gerimisnya yang berhamburan
Aku masih mematung di tangga gereja itu
Kulihat seorang gadis muda menuruni anak-anak tangga
Dan cahaya samar menghijau pada setiap langkahnya

Kini aku terpejam mendengar suara-suara
Dalam kediamanku yang liar
Semak-semak dan rumputan basah di hutan
Bau tanah yang dilepaskan angin ladang
Desah pantai serta dengung serangga rawa-rawa
Semuanya seperti memanggil-manggilku lagi
Tapi aku sudah tersalib, mengeras dan retak-retak
Kurenungi setiap kemegahan dan kehancuran:
Perjalanan sejarah yang tersaruk-saruk
Cawan yang dituangi anggur dan darah

Tapi apakah artinya waktu dan ke mana
Hari-hariku akan pergi setelah ini? Aku merasa tegak
Di tengah puing-puing dan kuburan masa lalu
Aku merasa hidup bersama mayat-mayat dan hantu-hantu
Musim demi musim terus berganti
Seperti bertukarnya hidup dengan mati
Tinggal lonceng yang masih sesekali berdentang
Seekor kuda merah menggeliat di udara dan kulihat di sana
Sebuah sekarat dari kematian yang indah
Prev Next Next