Puisi 47

Acep Zamzam Noor


KUMAKNAI



Di atas bukit yang menyerupai lukisan

Kabut bagaikan dinding tebal

Yang menopang udara. Musim menjadi tangga

Antara yang sementara dengan yang kekal

Yang nampak terlihat dengan yang tidak teraba


Pohon-pohon berbaris melingkari danau

Seperti deretan usiaku yang risau. Detik-detik

Menjelma burung-burung kecil, kecipak-kecipak air

Jalan setapak yang terus mengalir. Semakin ke tenggara

Rumput-rumput basah menghamparkan kata-kata


Kumaknai setiap butir embun yang melepuh

Di tubuh daun. Kumaknai jejak-jejakku yang sunyi

Kenangan-kenanganku yang kehilangan puisi

Ketika memberi atau menerima, ikhlas atau terpaksa

Menjadi tidak jelas lagi batasannya di antara kita


Di sawah-sawah yang menyerupai tapestri

Gerimis bagaikan jalinan benang emas

Yang mengurung senja. Kesedihanku memaknai tanah

Tanah air kita yang terbelah, kepedihanku memaknai bumi

Bumi percintaan kita yang tinggal onggokan sampah


***

Prev Next Next