Puisi 70

Acep Zamzam Noor


DI NEGERI AIR



Menanam tangan di lubuk laut

Wajahku dipenuhi cahaya keperakan

Siang hari. Lebih jauh tanganku mencari sungai

Gelombang panjang menerjangku ke muara

Seperti kata-kata yang didesakkan langit biru

Menjadi garam di pantai. Di laut aku lebih paham

Segarnya darah dan manisnya sebuah luka:

Negeriku ditaburi bunga, dituangi arak dan tarian

Lalu dibakar upacara demi upacara


Suaraku mencari rumah di pantai dan bukit

Mencari kesabaran di antara patung-patung dewa

Tapi semakin jauh perihku mengembara

Tanganku mengeras seperti kayu

Pelipisku ditumbuhi lumut hijau

Lalu dari mataku yang nanar

Perahu-perahu melaju meninggalkanku:

Kekayaanku tinggallah rasa memiliki buih-buih ini

Ketika semua pakaian dan keyakinanku dilucuti


Ketika pantai-pantai menjadi fatamorgana

Ketika patung-patung dewa rebah dan terkubur

Ketika peperangan menawarkan arak dan filsafat

Gelombang panjangmu ternyata menyediakan sebuah jalan

Untuk lewat. Dengan nyali yang kehilangan sebelah kakinya

Aku melompat dari lubuk laut ke sesaji penuh bunga

Menari, kasmaran dan megap-megap:

Di taji ayam-ayam jantan gairah mistik itu menjadi samurai

Seperti hujan yang menegang dan menjelma anak-anak panah


Antara Sanur dan Candidasa, seperti Ravenna dan Venezia

Aku penuh dalam genggaman cahaya matahari

Melewati sulur-sulur panjang pohonan berusia

Melalui upacara demi upacara. Tanganku menemukan sebuah sungai

Dengan perempuan-perempuannya yang sulit diraba

Di sungai keindahan masih punya bagian tak terkalahkan

Seperti juga kedalaman hidup serta riak-riaknya:

Untukmu ingin kuakhiri baris-baris ini lantas kumasuki

Terowongan di sebuah bukit karang


***

Prev Next Next