Puisi 56

Acep Zamzam Noor


DUA PANTAI



Di antara dua pantai, seperti juga alamat rindu

Tersesatlah kita dalam panjangnya sebuah ciuman

Serta rimbunnya sulur-sulur pohon kenangan:

Tenggelam dalam tahun-tahun yang bergaram

Hanyut dan megap-megap dicumbu kesementaraan


Setangga demi setangga menapaki keagungan upacara

Luput menggapai pangkal kata, menyerah pada debar dada

Kembali merayap dari banjar ke banjar, dari kandang babi

Ke kafe sunyi. Dalam mabuk kita melihat sebuah gambar

Dan nampaklah tubuh-tubuh yang bergelimpangan

Seperti patung-patung yang hangus terbakar


Tertawa karena langit kita masih biru adanya

Perahu masih melaju dalam naungan angin sakal

Dari tenggara. Kita membaca jejak pada kilau ombak

Menenggak arak serta kandungan filsafatnya

Hingga gairah mistik itu kembali membakar udara

Dan tubuh kita menjelma anak-anak panah yang menyala


Di antara dua pantai, seperti juga dermaga cinta

Terkulailah kita dalam letihnya sekian persetubuhan

Serta berlikunya jalan munuju ruang pemujaan:

Ternyata kemesraan masih mempunyai wilayah di bumi

Seperti juga kedalaman hati dengan riak-riaknya yang sopan


***

Prev Next Next