Puisi 80

Acep Zamzam Noor


BUAT MALIKA HAMOUDI



Kulihat jemarimu yang lentik, dan kusaksikan di langit

Arakan awan mengirimkan senja yang lain

Ke arah kita. Ada warna merah, warna biru yang pupus

Bongkahan-bongkahan kelabu yang melayang jauh

Dari jendela, kulihat sungai Siene yang membelah kota

Dengan jembatan-jembatannya yang penuh ukiran

Seperti rambut ikalmu. Lalu dari puncak apartemen tinggi

Kita berloncatan, meliuk-liuk dan berteriak di udara:

Senja pecah menjadi ribuan isyarat sunyi

Yang mungkin bisa diterjemahkan sebagai hasrat

Atau niat tersembunyi untuk bunuh diri


Masih kuingat tarian perutmu, dan kubayangkan sosokmu

Yang ramping, rautmu yang runcing, dengan alis Aljazairmu

Yang menikam seorang penyair. Di gerbong kereta api

Di sepanjang terowongan yang menembus tubuh tua kota ini

Ada yang menggelepar karena kehilangan kata-kata

Ketika sunyi menyediakan sebuah beranda merah muda

Yang bernama kebisuan. Lalu apakah arti percakapan kita

Dari halte ke halte, menyusuri jalan-jalan yang berliku

Keluar masuk restoran, museum atau toko buku

Sedang yang kutemukan selalu bukan ruang? Demikianlah

Aku mengerti gerak liar sang takdir, hukum awal dan akhir

Pengkhianatan yang kemudian menjadi monumen terkenal

Seperti Bastille yang ramai dikunjungi orang


Di bawah cahaya lampu merkuri, di antara tiang-tiang marmar

Kita merasa lebih tua dari usia bumi yang sebenarnya

Rautmu yang runcing, tatapanmu yang tajam dan berkilat

Seperti ingin membunuhku. Tapi ajal telah beranjak ke timur

Ke lereng-lereng perbukitan, ke Montmartre yang murung

Kini tanganku menyentuh dagumu pelan dan tiba-tiba kurasakan

Sebuah ketajaman yang lain lagi:

Mengapa kecantikan yang luar biasa selalu menghunuskan

Pisau? Seperti senja yang menancapkan satu jawaban

Yang tak mungkin bisa kuucapkan lagi padamu

Tak mungkin bisa kutuliskan di atas pakaian dalammu


***

Prev Next Next