Puisi 93

Acep Zamzam Noor


DI ANTARA BOTOL-BOTOL




Ketika musik blues mengalunkan suaramu yang serak

Cahaya bulan yang pucat dan keperakan

Mengajakku bunuh diri. Tapi yang kuhasratkan

Adalah setetes darah segar dari ujung jemarimu

Untuk kucampur dengan sisa minuman di gelasku

Sebab kemabukan kini menjadi satu-satunya

Pernyataan rindu. Telah kureguk comberan paling kotor

Lalu aku terkapar di tangga-tangga gereja

Memimpikan Li Po dan Al-Hallaj menari-nari


Sepanjang malam aku menggeliat

Di antara helaan napas bumi yang berat

Pada ujung nyanyianmu yang bergetar di udara

Kubayangkan sekuntum mawar tumbuh dan terluka

Dan sebatang lilin terbunuh cahaya. Masih kudengar

Gelombang melemparkan semua amarahnya ke pantai

Sedang batu karang kasmaran menanti datangnya badai:

Kuisi lagi gelasku dan kuminum dalam regukan besar

Kemudian kurentangkan tanganku lebar-lebar


Di antara botol-botol yang menjulang

Aku berjalan sempoyongan. Inilah tarianku

Menyuling anggur dari kelopak mataku sendiri

Sebab tak ada lagi yang bisa kuminum

Dari sajian dunia. Inilah tarianku yang baru

Menghasratkan setetes darah segar dari ujung jemarimu

O, telah kupanggil Chairil dan Baudelaire ke mari

Untuk mabuk bersama. Di sepanjang jalan-jalan cinta

Musik blues terus menjeritkan suaramu yang serak


***

Prev Next Next