Puisi 67

Acep Zamzam Noor


MENJUMPAIMU



Menjumpaimu di sebuah kota

Seperti menemui kenyataan dunia ini

Kota itu tak bernama, gedung-gedungnya sangat tua

Dan musik menggenang sepanjang jalan-jalannya yang sunyi

Aku tersentak dan menemukan isyarat-isyarat:

Wajahmu memenuhi setiap celah dan sudut kelam

Tapi daun-daun rontok dan senja menguning seketika

Sebuah lagu yang kukenal mengalun dan ingatanku terpotong

Di tengah-tengahnya. Kulihat anak-anak muda itu masih berciuman

Orang-orang tua menuntun anjing keliling taman

Musim gugur telah membukakan seluruh ruang dalam dirimu


Kembali aku menemukan isyarat-isyarat:

Lukisan-lukisan pudar sepanjang dinding kota

Tiang-tiang besar yang menyimpan ceruk dan gaung

Adalah pergulatan waktu dengan kesunyiannya

Lalu kita sama-sama terpejam dan menunggu datangnya ledakan

Bibirmu asin seperti darah sedang kuku-kuku tanganmu menancap

Di pundakku. Musik terus mengalir dari sejumlah bar di kota itu

Dan kulihat cahaya menggeliatkan ular-ularnya di sana

Seorang wanita berambut merah meronta-ronta

Di trotoar botol-botol pecah seperti kata-kata


Aku meraba-raba detik dan jam yang lambat

Pada tanganmu kurasakan denyut nadi ribuan pengungsi

Keringat para buruh kasar sekaligus semerbak parfum

Bintang-bintang film. Dari ketiak serta mulutmu yang mekar

Kembali aku mencium kenyataan dunia ini:

Alkohol keemasan memenuhi mata dan kepalamu

Pikiranmu tersangkut pada bentangan kawat listrik

Dengan rambut yang terus memanjang ke laut

Seperti hantu. Di kejauhan seorang pemimpin berpidato


Monumen-monumen ratusan tahun terbakar

Sebuah ledakan menjadikan kita serdadu liar lagi

Kita menyusuri puing-puing dan kuburan baru

Pada malam penuh salak anjing dan ringkik kuda itu

Isyarat-isyarat lain tak dapat kutolak

Nanah busuk meleleh dari pelipismu yang retak

Lalu kedua lenganmu berjatuhan ke tanah

Seperti pelepah. Bunyi-bunyian aneh tak lagi terdengar

Hanya gemeretak mulut kita yang saling mengunyah

Aku terus mengikutimu dan berpegangan pada birahi rambutmu

Sebuah keindahan sejati yang kupahami kemudian:

Awal dari kemelut dunia kita yang tak berkesudahan


***

Prev Next Next