Puisi 100

Acep Zamzam Noor

TIGA KOMPOSISI


1

Keindahan tersusun dari alis tebal yang hitam kecokelatan
Hidung bertindik serta bibir yang retak-retak mirip tembaga
Kemerduan terdengar dari rintih kesendirian, dari lenguh kesepian
Dari ketabahan yang senantiasa berjaga sekitar ranjang dan sofa
Saat-saat genting akan tiba ketika suku kata menghadirkan semua bunyi
Pada setiap ucapan. Dan keheningan segera mengendap jika kalimat
Menenggelamkan seluruh hurufnya menjadi konsonan-konsonan
Yang hanya bisa dibaca serta dipahami oleh kediaman pagi

2

Keanggunan memahat bukit karang menjadi patung telanjang
Dengan payudara besar yang menyerupai monumen purba
Keseimbangan mengukir lekuk gelombang pada lebar pinggang
Pada lingkar pinggul. Berdirilah di ujung senja tanpa kata-kata
Dan saksikan bagaimana ajal melenggang layaknya seorang balerina
Penari tua yang begitu riang menebarkan pesona sekaligus bencana
Ke tengah dunia. Keindahan dan ajal bersahutan melempar suara
Yang terus memantulkan gema dari samudera ke samudera

3

Kekhusyukan seperti pemanjat tebing yang merayapi rambut ikal
Menapaki sulur-sulur kekekalan. Dan maut seperti peselancar nakal
Yang menerobos lorong darah, menyusuri celah napas serta melintasi
Selasar jantung. Kepasrahan tergambar dari bangsal rumah sakit
Dari ruang persalinan. Kelahiran dan kematian adalah saudara kembar
Yang berbeda wajah dan lama terpisah, namun mereka akan bertemu
Pada saatnya. Seperti sepasang kekasih yang ditakdirkan berjauhan
Seperti cinta dan maut yang ternyata saling merindukan

***
Prev Next Next