Puisi 76

Acep Zamzam Noor

BELUM SINGGAH


Kulihat matahari menenggelamkan dirinya
Dingin menyebarkan harum gandum, dan angin
Kenangan lama yang terus memusar
Di jantung udara. Salju belum singgah
Langit diselimuti mendung
Perahu-perahu terapung
Restoran-restoran berlampu redup
Museum-museum tutup. Tak ada malaikat
Tak ada penjual kembang gula itu
Hanya seorang wanita
Dengan pakaian warna-warni
Seorang wanita dengan giring-giring
Di kakinya. Desember yang sangsai
Akhir tahun yang ngungun
Berjalan gontai ke arah kedai minum

Sambil menghirup udara
Menyusuri gang-gang berbatu
Aku melaju dalam pikiran ganda
Seperti mencium lagi bau tinta, tumpukan kertas
Potongan tembaga, mesin cetak yang tua
Di sebuah atelier. Tercium juga kakus umum
Stasiun kereta, deretan sepeda unta dan sebuah pub kayu
Di pinggiran kota

Salju belum singgah
Daun-daun menguning di atap rumah
Rumah-rumah bertumpuk
Seperti kotak suara. Sebuah gereja menjadi rumah
Dan orang-orang berdoa di mana saja
Sembahyang di mana saja, bercinta
Di mana saja

Aku berputar
Dan terus berputar
Mengikuti dentang lonceng
Yang membongkar sisa keyakinananku
Pada sesuatu yang tak ada. Salju belum singgah
Malaikat-malaikat belum lewat
Kematian bagai serpihan planet hijau
Yang melayang-layang. Tak ada percakapan
Tak ada kabar dari kepulauan
Hanya ujung sepatuku
Yang terantuk pada trotoar
Telah berbicara atas nama waktu
Dan mengenai waktu

***
Prev Next Next