Puisi 68

Acep Zamzam Noor


DESEMBER


Pada suatu sore bulan Desember

Aku berdiri di tangga gereja

Ketika lonceng mengumandangkan sunyi

Dan serombongan burung dara

Menjengkal setiap ruang yang tersisa

Di antara patung-patung dan reruntuhan

Lalu semuanya kupahami sebagai perlambang agung

Seperti Isa dengan luka-lukanya yang kekal

Kubalut luka-luka dan kesepianku

Dengan baris-baris sajak


Dulu aku pernah sangat berdosa

Memetik buah kehidupan dari pohonnya di sorga

Tapi itulah dunia yang kemudian tersaji buatku

Aku mabuk dan menggedor-gedor ruang hampa

Sebagai pengembara yang terusir dan kehilangan

Tanah air. Ketika bulan Desember kembali menjumpaiku

Dengan kabut dan gerimisnya yang berhamburan

Aku masih mematung di tangga gereja itu

Kulihat seorang gadis muda menuruni anak-anak tangga

Dan cahaya samar menghijau pada setiap langkahnya


Kini aku terpejam mendengar suara-suara

Dalam kediamanku yang liar

Semak-semak dan rumputan basah di hutan

Bau tanah yang dilepaskan angin ladang

Desah pantai serta dengung serangga rawa-rawa

Semuanya seperti memanggil-manggilku lagi

Tapi aku sudah tersalib, mengeras dan retak-retak

Kurenungi setiap kemegahan dan kehancuran:

Perjalanan sejarah yang tersaruk-saruk

Cawan yang dituangi anggur dan darah


Tapi apakah artinya waktu dan ke mana

Hari-hariku akan pergi setelah ini? Aku merasa tegak

Di tengah puing-puing dan kuburan masa lalu

Aku merasa hidup bersama mayat-mayat dan hantu-hantu

Musim demi musim terus berganti

Seperti bertukarnya hidup dengan mati

Tinggal lonceng yang masih sesekali berdentang

Seekor kuda merah menggeliat di udara dan kulihat di sana

Sebuah sekarat dari kematian yang indah


***

Prev Next Next