Puisi 64

Acep Zamzam Noor


SENZA TITOLO



1


Seperti daun-daun yang luruh, ranting-ranting

Yang lepas oleh angin. Demikianlah kutempatkan diriku

Asing dan sunyi di antara tembok-tembok tua

Perlahan kudengar lonceng gereja

Seperti mengisyaratkan jarak

Yang tak terjengkal. Perceraian kita

Lebih perih dari perpisahanku dengan dunia

Atau selamat tinggalku pada benda-benda –

Ranjang kita hangus dibakar waktu

Napsumu berkobar di belahan yang jauh

Sedang kesabaranku tertimbun salju

Dalam kebisuan yang mengeras


2


Kita telah sama-sama melupakan sorga

Sejak pertama luka kita torehkan

Hingga mengalir sungai darah yang deras

Tempat kita mandi dan minum sepuasnya

Sambil terus membuat borok-borok lain

Sebagai kegembiraan. Tapi semuanya lampau

Kini aku menggigil karena tahu ada yang lebih indah

Selain dosa. Sesuatu yang hanya bisa dibayangkan

Sebab antara kita masih berkobar dendam –

Sebuah buku yang dipenuhi sajak-sajak protes

Dengan gambar-gambar kemarahan yang menggugat

Bahwa neraka tak di mana pun


3


Ada darah mengalir di atas timbunan salju

Ia membentuk dirinya menjadi susunan hurup-hurup

Dan kubaca sebagai kesepian yang mengerikan

Kesepian yang tak pernah terlintas

Dalam sajak-sajakku. Hidup telah kupermainkan

Seperti juga aku telah dipermainkan hidup

Kini semuanya saling berhadapan dengan pemahaman

Yang berbeda. Darahku terlalu tawar untuk dunia ini

Dan hanya akan bergolak jika dicampur darahmu –

Sebuah perkawinan antara minyak dengan api

Kita akan saling membakar

Kita akan saling menyalakan


4


Henny Hendrayani, catatlah ini:

Seperti daun-daun yang luruh, ranting-ranting

Yang lepas oleh angin. Demikianlah kutempatkan diriku

Asing dan sunyi. Kulihat awan-awan yang bergerak

Langit penuh tarian dan arakan awan-awan

Di sana kulihat tubuhmu masih nampak lebih ringan

Dari cahaya yang menari-nari –

Tapi lupakanlah, lupakanlah semuanya

Dunia kita telah hangus dibakar pertikaian

Menangislah pada puing-puing jauh di seberang

Di sini aku akan menjerit membangun patung-patung

Dari timbunan kesabaranku yang membeku


***

Prev Next Next