Puisi 71

Acep Zamzam Noor


MENANTI KELAHIRAN



Hari demi hari

Adalah hurup-hurup yang kembali

Ke haribaan bumi. Jalan panjang yang kutempuh

Bumilah ujung dari semua kata-kataku

Dan puisi, kulihat seperti bintang-bintang

Di pelipis anakku yang akan datang


Hari demi hari, menjadi bulan dan tahun penuh debu

Langit redup di lembar-lembar kertasku

Bagaikan malam yang kehilangan salak anjing

Di sebuah hutan. Hari demi hari

Adalah kekalahan sekaligus kemenangan:

Kuburu puisi ke ujung bumi

Ketika orang-orang tak peduli, ketika orang-orang

Tak percaya ucapan penyair


Kuburu puisi, kuburu sunyi ke ujung paling jauh

Dan cinta terwujud dalam birahi kata-kataku

Buah kegelisahan seratus tahun

Aku melihat bintang-bintang di langit

Aku melihat pelipis anakku yang keemasan

Bintang-bintang menjadi isyarat

Anakku menjadi jawaban. Demikianlah puisi lahir

Ketika orang-orang tak percaya ucapan penyair

Tapi setiap buku yang ditulis ibu

Darahlah tintanya

Dan semua yang diucapkan cinta

Menjadi puisi terindah

Tangisan bayi

Yang membentangkan jalan pulang

Bagi pemburu cahaya


Aku memburu cahaya, sekaligus memuja kegelapan

Hasrat paling akhir dari seorang penyair

Adalah melupakan semuanya. Berdiri di puncak batu karang

Tubuhku dililit bendera warna-warni

Yang dijulurkan lidah cakrawala

Di bawah tumpukan jerami

Di antara kebusukan dan kemurnian kata-kata

Kudengar bunyi serangga

Bagaikan nyanyian

Gelombang-gelombang panjang

Melipat suaraku

Ke dalam sunyi

Dan puisi, kulihat seperti anakku

Yang tengah dilahirkan ibunya ke dunia


***

Prev Next Next