Puisi 49

Acep Zamzam Noor


ANGIN PEGUNUNGAN



“Marga,” seseorang berkata

Pada ujung dermaga. Suaranya pelan

Sepelan angin pegunungan yang merayap

Dari selatan. “Aku orang gunung

Yang merindukan lautan,” katanya lagi


Lalu akanan menjadi lebih teduh

Seteduh jubah langit subuh

Yang memayungi mimpi nelayan

Dalam pelayaran tanpa akhir

Ke palung takdir. Ada semburat marun

Segurat kuning yang ngungun

Di sekeliling bayang separuh bulan

Yang lindap tergantung


“Marga,” seseorang berkata

Pada remang warung. Suaranya samar

Sesamar angin pegunungan yang sembunyi

Di ruap kopi. “Aku mengunjungi bandar

Dengan segunung debar,” katanya lagi


Dermaga sediam kayu hitam

Tiang kenangan yang menopang

Rumah-rumah panggung di sudut

Ingatan. Ada yang menyerupai surut

Sampan waktu yang bertolak dan berlabuh

Di akanan subuh. Ada yang mengikuti pasang

Bulan yang meredupkan kuningnya

Menjadi hijau kebiruan


”Marga,” seseorang berkata

Pada dingin kopi. Suaranya kudus

Sekudus angin pegunungan yang lampus

Di surya pagi. “Aku mencintai lautan

Seperti mencintai gunung di selatan,” katanya lagi


***

Prev Next Next