Puisi 43

Acep Zamzam Noor


PARA KEKASIH



Attar telah bernyanyi tentang burung

Yang terbang dari dahan-dahan jiwa

Sana’i telah menanam dan memetik mawar abadi

Telah banyak nyanyian dan juga kesedihan

Dibisikkan angin yang memuja keramahan Sulaiman

Batu-batu digosok para kekasih menjadi nilam sejati

Dan udara dipenuhi aroma hati yang terbakar


Begitu mendengar senandung Daud yang merdu

Pohon-pohon terhenti dari kejatuhannya ke tanah

Dan airmata langit mengkristal di udara

Jalaluddin telah mengundang matahari turun dari hatinya

Rumput-rumput terkejut dari keterikatannya pada akar

Sedang jiwa bumi bergerak dalam tarian yang riang

Hingga batu-batu berterbangan bagaikan kapas


Di sepanjang Laut Tengah yang tawar

Langit bagaikan logam yang disepuh keemasan

Di sana Yunus memahat sajak-sajaknya dalam kaligrafi

Yang sulit dibaca. Tapi ikan-ikan dapat membacanya

Kadal-kadal telah membacanya dengan mata terpejam

Karang-karang menyusut menjadi butiran pasir

Dan lautan membukakan lembaran-lembaran buku


Hafiz menyuling anggur dari kebun hatinya

Lalu mengundang burung-burung untuk mabuk bersama

Jami bergoyang-goyang di antara dua cawan besar

Yang disajikan langit dan bumi pada kehidupan

Tak terhitung berapa lagu dan juga airmata

Disalurkan sungai-sungai rahasia ke Safa dan Marwah

Menjadi gelombang para kekasih yang mengalir


***

Prev Next Next