Puisi 44

Acep Zamzam Noor


DI MALIOBORO



Di antara kereta yang beranjak ke timur

Serta jerit peluit yang masih tersisa di telinga

Udara seperti bergetar meski hujan telah lama reda

Kita berjalan ke luar meninggalkan deretan bangku itu

Dan segera nampak aspal yang mengkilat, trotoar yang bersih

Juga bentangan rel yang ujungnya menghilang ditelan gelap

Kau sedikit sempoyongan menghirup candu kata-kataku

Sedang wajahku membiru oleh kalimat-kalimat tanggung

Dari cerita pendek yang tak kunjung kauselesaikan


Di sebuah warung segalanya menjadi lebih terbuka

Seperti majalah lama. Aku mengingat kembali namamu

Mencatat alamatmu, menghitung tahi lalatmu dan membaca

Isyaratmu. Gambar kupu-kupu hijau di atas payudaramu

Membuatku paham bahwa kau memang keturunan peri

Bahwa parasmu cantik sekali. Mungkin pelipismu tak serata

Jembatan yang menyatukan patahan garis di lengkung alis mata

Namun rambutmu yang segimbal musim hujan, serimbun ucapan

Telah membuat napasku menjadi begitu tidak keruan


Kau menciumku seperti gempa bumi yang pelan dan sopan

Lalu aku membalas ciumanmu layaknya tanah kerontang

Yang diberkati hujan. Rasa tembaga kucecap dari bibirmu

Seperti asin darah yang bercampur dengan buih-buih ludah

Aku menelan semuanya bagaikan menelan setiap peristiwa

Dalam kehidupan. Tapi di sebuah warung yang terbuka

Di majalah lama yang mulai sobek halaman-halamannya

Ceritamu menjadi terlampau pendek untuk sebuah kisah cinta

Yang panjang. Untuk sebuah kota yang selalu digenangi kesedihan


***

Prev Next Next