Puisi 51

Acep Zamzam Noor


SEPAKBOLA



Di usianya yang ke-45, lelaki itu menuliskan sejumlah kata

Pada secarik kertas, yang tergantung bimbang

Di rangkaian kembang. “Aku merindukanmu

Seperti merindukan Inne Ratu, dulu

Ketika seluruh langit masih biru"


Saat itu hampir senja, keloneng becak di simpang tiga

Lampu redup sekitar pos ronda, dan sebuah beringin tua

Runtuh di halaman TK. Lelaki itu memandang ke mulut gang

Ke deretan rumah dan madrasah, hingga sebuah kelokan

Yang telah menyembunyikan seseorang


Di usianya yang ke-45, kata-kata yang pernah dirangkainya

Terus bergema di rongga dada, memukul-mukul iga

Di antara batuk dan asma. “Aku mencintaimu

Seperti mencintai Inne Ratu, dulu

Ketika merasa tak ada masalah dengan waktu”


Waktu adalah gelanggang olahraga, nampaknya:

Banyak lapangan, banyak permainan, tapi selalu berujung

Pada kalah dan menang. Kemudian lelaki itu berjalan, sendiri

Ke arah stadion, melewati jalan yang remang

Ia bermain sepakbola melawan sepi


***

Prev Next Next