Puisi 82

Acep Zamzam Noor


BUAT LINA SAGARAL REYES



Peluru yang ditembakkan ke udara

Adalah nasibmu:

Sebuah air mancur, sumber kata yang jernih

Di antara batu hitam, akar pohon dan retakan tanah

Matahari tercipta dari kemurnian kata

Airmata langit mengkristal pada puncak

Enerji kata. Sebuah bendungan tebal yang retak

Gunung berapi yang ingin meledakkan diri

Tapi sungai telah mengirimkan suaramu

Ke muara-muara sunyi yang jauh

Kata-katamu akan mengeras

Seperti ombak

Yang digarami waktu


Di lembah-lembah negerimu yang perawan

Langit menanggalkan jubahnya

Kucium wangi humus dan bau lumpur

Kubayangkan bunga-bunga rumput yang keemasan

Tapi siapa gerangan pemilik tanah

Luas ini? Tak kutemui seorang pun di sini

Hanya danau menggenang:

Pulau kecil, angsa-angsa putih, sebuah perahu

Air hijau dengan riak-riaknya yang sopan

Tak ada bunyi kodok atau denting piano

Yang ada hanya kau, Lina, dengan sebutir peluru di dada

Menghirup napas air, ganggang dan dingin batu


Tapi siapakah yang menguasai seluruh tanah dan air

Tak bernama ini? Tak kudengar suara pidato

Juga tak kulihat iring-iringan panjang

Para serdadu datang dan pergi seperti malam hari

Perang besar atau perang kecil, puing-puing, mayat-mayat

Sebuah gempa dahsyat akan menyelesaikan semuanya:

Di belantara negerimu yang kini terbakar

Kuda-kuda liar tak lagi berpacu

Anjing-anjing hutan tertidur

Pohon-pohon menundukkan kepala

Seorang lelaki kuning di atas bukit karang

Suaranya melengking seperti kesepianmu

Yang diberondong seribu peluru


***

Prev Next Next