Puisi 61

Acep Zamzam Noor


FONTANA MAGGIORE



Tiba-tiba tubuhmu penuh hujan

Seperti patung di tengah air mancur itu

Dan waktu menjadi pohon yang ditinggalkan daun-daun

Aku ingat sebatang lilin di tengah laut malam hari

Di sini pun cahaya memperlebar wilayah kelamnya

Hingga kita bersudutan dengan tajam

Dalam keremangan yang mengeras


Kebisuan menjadi bahasa

Antara undakan-undakan dan detik-detik

Yang menggenang. Bunyi gitar terdengar nyaring

Tapi segera dipatahkan angin yang runcing

Wajah pengamen itu menjadi pucat dan keperakan

Di tengah deretan hari-hari yang menyusut

Dan mengembun pada patung-patung


Di dinding kasar nampak bayang-bayangmu

Yang bergerak-gerak tanpa lakon

Dan orang-orang masih berjalan dengan anjing

Atau anak-anak mereka yang menggigil

Kulihat lehermu menghijau seperti tembaga

Tapi segera mulut cahaya menyerapnya

Ke dalam lampu-lampu


Tubuhmu menyusut dan menjadi percikan air

Kekekalan memenuhi seluruh kolam

Kunang-kunang terbang, menjauh dan menghilang

Adalah pikiranmu yang masih terpatah-patah –

Di taman-taman lain yang lebih remang

Kulihat jurang-jurang yang digali cahaya

Seluruh hujan diterjunkan ke sana


***.

Prev Next Next