Puisi 77

Acep Zamzam Noor


LEIDEN



Aku tiba di sini

Di antara kata-kata liar

Buruanku. Sebuah lonceng besar

Melayang-layang di udara

Sedang di jalan-jalan sempit kota ini

Kudengar ambulan-ambulan mengerang

Lalu ingatanku melompati sebuah menara

Yang menjulang. Gedung-gedung gemetar

Kanal-kanal menggigil

Perahu-perahu merapatkan diri

Ke teras sebuah kastil:

Kebisuan adalah bahasa lain

Seperti juga puing-puing

Atau kincir angin

Pada musim terakhir


Kuikuti cahaya biru yang berkelebat

Kusebar harum gandum sepanjang kaki lima

Kupilih anggur ketimbang mendung atau gerimis

Sebuah kota nampak tengah bersujud seperti arca

Tapi tidak menangis. Aku membaca rajah

Menggumamkan mantera-mantera

Yang terpahat pada retakan-retakan tanah

Kudengar suara lonceng masih melayang-layang

Di udara. Sedang di ranting-ranting linden

Juga di pokok-pokok hitam pinus tua

Angin seperti kehilangan desirnya

Dalam gerak waktu. Sebuah isyarat luka

Bayang-bayang yang menjatuhkan diri

Di atas reruntuhan senja


***

Prev Next Next