Puisi 85

Acep Zamzam Noor


DI SEBUAH PANTAI



Aku bergerak ke arahmu:

Pohon-pohon bakau, pasir yang kotor

Lunas perahu, dayung patah serta layar

Yang masih digulung. Kutebak warna senja

Debur ombak seperti memahat ketebalan udara

Dengan kata-kata yang kutemukan

Pada bekas sayatan pisau

Di lenganmu. Sebuah ledakan

Telah memecahkan urat darahmu

Kulihat kau mengerang di pantai

Dengan wajah ungu

Serta rambut tergerai


Pokok-pokok kayu, cemara udang, angin jantan

Kabut keemasan menyelimuti punggungmu

Yang telanjang. Aku terus bergerak

Mencari kata-kata baru

Dari butir-butir pasir

Yang bertebaran

Di leher dan dadamu. Seperti bunyi mesiu

Alkohol membentur kepalamu

Hingga rambutmu mengepulkan asap

Dan sebagai lelaki yang tengah kerasukan

Aku melihat bayang-bayang sorga

Pada matamu yang tak pernah

Bisa dipejamkan


Aku bergerak lagi

Dengan tarian yang tak kumengerti

Telah kususuri hutan bakau di selangkanganmu

Menyelinap di antara lorong gelap jiwamu

Dan mabuk dalam putaran angin sakal

Kegelisahanmu yang kekal. Di akhir bait ini

Di baris-baris hampir penghabisan

Kata-katamu menjelma minuman keras

Yang membuatku semakin kerasukan –

Kulihat kau masih mengerang

Dengan botol hijau, wajah ungu

Rambut panjang tergerai

Seperti hantu


***

Prev Next Next