Puisi 91

Acep Zamzam Noor


JEJAK




Undakan demi undakan terus kudaki

Seperti menapaki hari-hari tua yang runcing

Tiba-tiba seorang kawanku dari masa lalu datang

Rambutnya keriting dan bersayap seperti malaikat

Tubuhnya indah dan kepalanya dilingkari mahkota duri

Langkahnya pelan dan suaranya mirip seorang gembala

Kami bertemu di sebuah bukit, dan melihat ke bawah:

Bulan Juli berkilauan di atas jalan yang melingkar

Rumpun-rumpun cemara yang kebiruan serta atap-atap rumah

Di kejauhan. Sebuah gereja nampak tergantung di udara


Kawanku yang pendiam, matanya memancarkan cahaya

Udara siang memercikkan lentik-lentik api dari rambutnya

Napasnya menggetarkan tahun, meluruhkan daun-daun zaitun

Sedang dari pusat matanya burung-burung nazar menyeberang

Seperti para imigran. Kawanku bukanlah seorang nabi

Tapi dadanya adalah dinding tebal yang bernama ideologi

Sedang kakinya kokoh menyanggga abad-abad sunyi

Di masa lalu, kawanku mungkin sosok paling sentimentil

Senyumnya yang meluruhkan hati semua lelaki dan perempuan

Kini menuntunku memasuki sebuah terowongan gelap


Telah banyak altar-altar yang akhirnya kutinggalkan

Sebab kalimat-kalimatku sering menjadi suara lain

Bagi ruang pemujaan yang penuh keluhan dan teriakan

Kusalami para jemaah dan aku selalu merasa ingin muntah

Ketika semua percintaan harus berakhir dengan segera:

Suara pidato menggelegar di antara deru panser dan meriam

Kanal-kanal meluapkan darah dan orang-orang bergerak ke kanan

Kulihat kawanku di antara mereka, mengangkat mayat-mayat

Sambil meninggalkan jejak panjang bagi para pengikutnya

Tapi aku segera berbelok ke kiri dan bergegas pergi


***

Prev Next Next